Tanjungpinang – Mimpi kontingen paduan suara wanita Kota Tanjungpinang untuk tampil di ajang Pesparawi tingkat nasional harus terkubur setelah mereka gagal diberangkatkan. Alih-alih berlaga membawa nama daerah, puluhan peserta justru terlantar dari Batam hingga Jakarta, meski telah mengikuti seluruh jadwal keberangkatan yang ditetapkan panitia.
Peristiwa ini menjadi sejarah tersendiri karena merupakan kali pertama Kepulauan Riau mengirimkan kontingen ke pentas nasional. Kontingen berasal dari Kota Tanjungpinang, sementara panitia pemberangkatan berdomisili di Batam. Namun hingga berada di Jakarta, kepastian untuk menuju lokasi kegiatan tak kunjung terealisasi.
Salah satu perwakilan kontingen, Ria Ukur yang juga merupakan mantan DPRD Kota Tanjungpinang, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kondisi tersebut.
“Mulai tanggal 24 kami sudah berangkat ke Batam sesuai tiket yang diberikan panitia dalam bentuk fotokopi kepada kami. Namun kami justru terlantar, mulai dari Batam hingga Jakarta,” ujarnya, kepada sejumlah awak media setiba di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Jumat (26/6).
Keterlambatan dan ketidakjelasan panitia membuat para peserta terkatung-katung selama perjalanan. Akibatnya, mereka mengalami kerugian baik secara materiil maupun nonmateriil. Karena merasa dirugikan, kontingen menyatakan akan menuntut hak dan pertanggungjawaban pihak panitia.
“Yang pasti kami akan menuntut apa yang seharusnya menjadi hak-hak kami dan kerugian yang kami alami selama ini. Kalau memang sejak awal kami diberangkatkan sebagaimana mestinya, tentu kami tidak akan menuntut apa pun karena memang itu hak kami sebagai kontingen paduan suara wanita untuk mengikuti Pesparawi nasional,” tegasnya.
Meski begitu, kontingen belum langsung mengambil langkah hukum. Mereka memilih berdiskusi terlebih dahulu bersama tim dan pengurus LPPD Kota Tanjungpinang untuk menentukan sikap selanjutnya.
“Langkah selanjutnya pasti kami akan berdiskusi dulu. Tidak mungkin kami terburu-buru menentukan sikap. Kami akan berdiskusi bersama tim dan juga pengurus LPPD Kota Tanjungpinang untuk menentukan langkah-langkah kami,” katanya.
Bagi para peserta, persoalan ini melampaui sekadar masalah biaya tiket. Ini menyangkut harga diri daerah, kerja keras latihan selama berbulan-bulan, serta kepercayaan puluhan keluarga yang melepas anaknya untuk berjuang di tingkat nasional. Semua itu terasa sia-sia ketika pintu panggung nasional tertutup sebelum terbuka.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia pemberangkatan belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab gagalnya keberangkatan kontingen asal Kota Tanjungpinang. Awak media ini masih berupaya menghubungi pihak terkait untuk mendapatkan klarifikasi guna memenuhi pemberitaan yang berimbang.(R.4z)






