Aceh Tamiang – Pagi cerah di Kualasimpang, Rabu 24 Juni 2026. Kantor Pos dipadati ratusan warga. Bukan antrean biasa. Ini antrean harapan. Jatah Hidup (Jadup), SK 1-4, penganti alat perabot rumah tangga yang hanyut dan rusak dari Kementerian Sosial RI akhirnya cair. Air mata duka banjir 24 November 2025 pelan-pelan surut, diganti napas lega.
Barisan panjang terpantau awak media ini mengular sejak pukul 08.00 WIB. Di tangan warga, tergenggam undangan ber-barkode hasil verifikasi berjenjang dari desa, kecamatan, hingga Kemensos RI. Wajah lelah bercampur senyum tipis. Tiap langkah maju ke loket, selangkah lebih dekat dari trauma ke pemulihan.
Salah satunya Ibu Mita, warga Desa Kota Lintang.
“Saya sedang menunggu antrian uang bantuan banjir SK 4 Pak. Hari ini yang disalurkan lorong I dan lorong khusus Desa Kotalintang,” ujarnya saat ditemui di sela antrean oleh awak media ini dalam ruang Kantor Pos.
Mita mengenang detik-detik banjir akhir 2025. Saat kejadian, air pasang tiba-tiba masuk rumah sebatas mata kaki, lalu naik begitu cepat. Ia dan keluarga langsung bergegas mengungsi mencari tempat aman karena air deras masuk ke dalam rumah.
Kepanikan itu masih membekas jelas di ingatannya.
“Saya sempat terpisah dengan anak-anak saya pak, karena air terlalu cepat naik. Bahkan pada saat saya keluar dari rumah saya juga tak sempat untuk mengambil pakaian serta benda-benda yang berharga sekalipun. Yang saya pikirkan bagaimana mana saya bisa menemukan anak-anak saya untuk menyelamatkan diri mencari tempat aman. Sebab air terlalu deras masuk kedalam rumah saya,” kenang Mita dengan nada bergetar bercampur bahagia karena keluarga selamat.
Proses penyaluran Jadup SK 1- 4 dilakukan ketat dan berlapis. Undangan ber-barkode jadi kunci. Sistem ini memastikan bantuan tepat sasaran dan memotong celah penyelewengan. Data sudah diverifikasi dari pemerintah desa, kecamatan, hingga Kemensos RI.
Di dalam Kantor Pos Kualasimpang, aktivitas pencairan berlangsung sejak pagi. Staf bernama Serik bersama satu teman Staf lainnya tampak sibuk melayani warga. Ia mencocokkan form SK dari pemerintah desa dan menghitung uang pengganti pascabanjir sesuai data terintegrasi menggunakan barkode.
Petugas Kantor Pos, Serik, menjelaskan jam operasional penyaluran hari itu.
“Untuk pembagian hari ini pihak Kantor Pos mulai buka sejak pukul 8.00 pagi bang. Dan pukul 12.00 kami istirahat dulu, dilanjutkan setelah pukul 1.00 siang dan tutup pada Pukul 16.00 Sore pak,” jelasnya singkat, sambil menghitung uang yang akan diserahkan ke warga.
Bantuan yang diterima warga mencakup Jatah Hidup sebesar Rp15.000 per jiwa per hari selama tiga bulan, dibayarkan sekaligus per Kepala Keluarga. Selain itu ada dana pengganti alat perabotan rumah tangga yang rusak dan bantuan isian Hunian Tetap. Bagi warga, bantuan itu modal untuk beli beras, seragam anak, atau bantal baru pengganti yang hanyut.
Satu per satu warga pulang membawa uang tunai bantuan. Ada yang langsung menelepon keluarga mengabarkan dana sudah cair. Ada yang menunduk, berbisik lirih alhamdulillah. Tangis haru pecah diam-diam. Beban tujuh bulan pascabanjir terasa sedikit terangkat hari ini.
Meski antrean panjang, suasana tetap terkendali, aman, dan tertib. Bekas lumpur banjir masih terlihat di lantai Kantor Pos Kualasimpang. Ironis, tapi juga simbol dari tempat yang ikut terendam, kini mengalir bantuan. Duka bersama melahirkan empati. Inilah potret Aceh Tamiang tangguh, tau adat, tau diri.
Bagi warga, cairnya Jadup bukan akhir cerita, melainkan titik awal. Warga mulai menghitung rencana beli kompor, betulkan atap, dan memastikan anak kembali sekolah. November lalu, air mata karena takut dan kehilangan. Hari ini, air mata karena lega dan syukur. Di Kualasimpang, duka pelan-pelan berubah jadi cerita daya tahan. Dan negara, lewat Kemensos, ikut menulis bab baru bahwa Aceh Tamiang tidak sendiri.(R.4z)






