Tanjungpinang – Di balik riak gelombang Tepi Laut Tanjungpinang, ada keresahan yang coba diredam dengan dialog. Ratusan pedagang kuliner Taman Gurindam 12 kini dihadapkan pada babak baru relokasi ke Melayu Square dan Anjung Cahaya. Bagi sebagian, ini terasa seperti meninggalkan rumah yang telah menghidupi keluarga bertahun-tahun.
Namun suara lain juga bergema. Ketua PPKTL, Ridwan, mengingatkan agar pedagang tak melihat relokasi sebagai penggusuran.
“Sosialisasi sudah kita jalani bersama. Ini kesepakatan dengan Pak Wali Kota,” ujarnya, menenangkan kekhawatiran yang mulai tumbuh.
Said Ahmad Syukri dari GEBER Kepri menegaskan hal serupa. Baginya, pemerintah tak sedang mengusir, tapi menata. Prosesnya pun terbuka lewat undian, tanpa pilih kasih.
“Tidak ada politik di sini. Yang ada hanya ikhtiar agar kawasan ini lebih tertib, lebih layak, dan UMKM tetap bisa tumbuh,” tegasnya.
Di satu sisi ada kerinduan pada lapak lama. Di sisi lain ada janji pemerintah untuk tidak mematikan dapur rakyat. Relokasi ini bukan akhir, melainkan jeda untuk menata ruang publik agar lebih nyaman bagi semua pedagang, pembeli, dan kota itu sendiri.
Yang dibutuhkan kini hanya satu saling percaya. Pedagang percaya bahwa janji relokasi bukan sekadar kata. Pemerintah percaya bahwa UMKM akan tetap jadi nadi ekonomi kerakyatan. Sebab yang dibangun untuk masyarakat, pada akhirnya harus kembali untuk masyarakat.
Dan di tengah tarik-menarik itu, satu hal yang tak boleh hilang: empati. Karena setiap gerobak yang bergeser, ada cerita keluarga yang ikut berpindah.(Red)






