Anambas – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, Sofwan Fuadi, menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada orang tua pasien yang saat ini masih dirawat. Permintaan maaf itu buntut keluhan sikap tenaga medis dan petugas keamanan yang dinilai membentak dan memarahi keluarga pasien di Unit Gawat Darurat (UGD).
Permohonan maaf disampaikan Sofwan saat dikonfirmasi media ini, Senin (29/6), terkait standar pelayanan RSUD Tarempa yang belakangan banyak dikeluhkan masyarakat. Sorotan itu menyasar pelayanan UGD, tim medis, hingga petugas security.
“Ya intinya, pihak manajemen RSUD Tarempa mengakui pelayanannya memang belum maksimal. Terutama masalah komunikasi rumah sakit memang masih sangat jelek terhadap keluarga pasien,” ujar Sofwan, yang akrab disapa Redaksi media ini.
Sofwan mengakui, ukuran bahasa yang sopan terkadang subjektif.
“Terkadang memang subjektif, kadang-kadang menurut kita sopan, tapi menurut pasien tidak,” jelasnya.
Ia menegaskan sudah mengingatkan seluruh perawat di rumah sakit tersebut. Menurutnya, keluarga pasien yang sedang dalam kondisi sakit memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi.
“Apalagi keluarga pasien masih dalam keadaan sakit, tentunya tingkat sensitivitasnya juga naik, pasti agak naik sedikit dan mudah tersinggung,” ungkap Dirut saat mengingatkan para perawat sebagai garda terdepan pelayanan RSUD Tarempa.
Menanggapi pertanyaan media, Sofwan menekankan bahwa pelayanan adalah kewajiban utama rumah sakit. Ia menggarisbawahi status tenaga kesehatan sebagai abdi negara.
“Ya namanya kita Abdi Negara, ya abdi ya pelayanan masyarakat. Saya selalu tekankan itu, rumah sakit juga fasilitas pelayanan. Saya selalu rewel, selalu ngomong kepada para perawat rumah sakit,” tegasnya.
Dalam apel internal, Sofwan juga menginstruksikan agar para petugas tidak mengeluarkan komentar yang tidak perlu saat menangani pasien. Ia menilai ucapan yang tidak tepat dapat menunda penanganan.
“Apalagi pasien itu dalam kondisi yang memang sedang tidak stabil. Tentu secara emosional, orang tua pasien karena faktor sakit itu,” jelas Dirut kepada media ini.
Dirut juga menyoroti sikap sebagian perawat yang dinilai mudah tersinggung dan suka nyeletuk. Ia menyatakan akan mengevaluasi personel yang tidak mampu melayani dengan baik.
“Mengenai perawat yang mungkin kurang melayani masyarakat, sepertinya harus di-rolling, diperes, adabnya juga perlu dikedepankan,” ujarnya.
Terkait tindakan tegas kepada petugas security dan tenaga medis yang membentak orang tua pasien, Sofwan menyebut perubahan sikap tidak bisa instan. Namun ia berkomitmen terus melakukan pembinaan setiap apel pagi.
“Memang ada orang dari watak lahirnya. Maka saya selaku Dirut memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengingatkan para perawat yang bekerja di RSUD Tarempa,” katanya.
Sofwan menutup dengan pesan keras kepada seluruh tenaga kesehatan.
“Tapi pelan-pelan saya selalu ingatkan, agar emosinya dikurangi, sebab perawat itu memilih bekerja di rumah sakit untuk siap melayani. Kalau belum siap melayani, maka jangan jadi perawat,” pungkasnya.(R.4z)






