Anambas – Di tengah mahalnya biaya pertanian dan harga pupuk, seorang petani kopi asal Tarempa bernama Herman diam-diam merintis jalan untuk menjadikan kopi sebagai produk unggulan Kabupaten Kepulauan Anambas, Kamis (8/10/2026).
Hampir dua tahun Herman menekuni kebun kopinya secara mandiri. Tanpa banyak publikasi dan minim dukungan, ia bekerja dalam senyap. Kini kerja keras itu mulai menunjukkan hasil. Kebun kopinya telah memasuki fase menunggu masa panen dan persiapan pemasaran.
Kisah perjuangan Herman ini mendapat perhatian dari kalangan media lokal, Tengku Azhar. Ia menilai apa yang dilakukan Herman adalah bukti nyata yang mematahkan keraguan selama ini.
“Beliau ini bisa dibilang salah satu yang pertama mengembangkan kopi di Anambas. Ini menjadi bukti nyata kalau kopi itu bisa tumbuh baik di Anambas, padahal selama ini banyak yang meragukan dan menganggap kopi tidak bisa hidup dan berkembang dengan baik di sini. Pak Herman sudah membantah keraguan itu.”
“Saya paham tidak semua petani kita punya modal besar seperti Pak Herman. Tapi kita bisa mulai dari yang kecil, dari pekarangan rumah, dari 10-20 batang dulu. Yang penting ada kemauan untuk mencoba. Kalau kopi Tarempa ini kita tekuni bersama, pelan-pelan bisa jadi sumber ekonomi baru dan jadi kebanggaan produk lokal Anambas kita,” pungkasnya.
Upaya mandiri Herman menjadi pengingat bahwa membangun pertanian tidak hanya menunggu program pemerintah, tetapi juga butuh keberanian warga untuk memulai dari hal yang ada.
Kopi asal Tarempa pun diharapkan tidak hanya berhenti sebagai hasil kebun, tetapi tumbuh menjadi produk lokal yang punya nilai ekonomi, daya saing, dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat Anambas.(R.4z)






